Pentingkah Mengejar Passion?

This article already published in selasar.com on August 26th. You can see it in Pentingkah Mengejar Passion?.


Do what you love and/or love what you do

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah tulisan menarik mengenai passion. Tulisan ini berbeda dengan berbagai tulisan lain mengenai passion. Di saat berbagai penulis maupun motivator mengatakan bahwa seakan-akan passion merupakan syarat bagi kita untuk merasakan kebahagiaan dalam kehidupan dan pekerjaan kita, tulisan ini justru mengungkapkan kebalikannya. Tulisan tersebut memiliki dasar dari beberapa artikel yang ditulis oleh Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer Georgetown University.

Ide-ide dasar mengenai “kejarlah passion Anda” bermula saat Steve Jobs memberikan pidato di Stanford University pada tahun 2005. Salah satu pernyataan Jobs yang menjadi trend di media pada saat itu (dan mungkin hingga kini) adalah “You’ve got to find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Pernyataan inilah yang pada akhirnya diartikan oleh kebanyakan orang sebagai kejarlah passion Anda. Pertanyaan besarnya adalah apakah memang itu yang dimaksud oleh Jobs pada saat itu? Dan apakah salah bila kita mengikuti ide kejarlah passion Anda untuk merasa bahagia?

Cal Newport mampu menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan tiga ide sederhana. Pertama, don’t follow your passion. Kebanyakan orang di dunia ini termasuk di Indonesia (mungkin saya dan Anda juga) menganggap bahwa satu-satunya cara bagi kita agar bahagia dalam kehidupan maupun pekerjaan kita adalah dengan mengikuti passion kita. Newport menganggap hal ini merupakan saran yang amat buruk khususnya bagi kaum muda karena hal itu bisa saja justru mengurangi peluang mereka untuk benar-benar menjadi passionate. Saran follow your passion juga menafikan orang-orang yang tidak/belum memiliki passion, di mana justru mungkin kebanyakan orang memang tidak/belum memiliki passion. Steve Jobs, yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu pioneer ide follow your passion, pun pada dasarnya tidak memiliki passion terhadap teknologi. Ironis karena justru teknologilah yang membuat Jobs dikenal oleh masyarakat dunia. Secara kasarnya, sebenarnya Jobs hanya terlanjur “tercemplung” di Apple hingga akhirnya ia harus hidup dan dikenal orang lewat Apple itu.

Kedua, be so good so they can’t ignore you. Bagi Newport, passion bukanlah sesuatu yang mutlak namun passion merupakan suatu efek samping dari membangun skill selama bertahun-tahun. Newport mengilustrasikannya dengan seorang pemain piano profesional (sebut saja X). Sebelumnya, X hanya ingin berlatih piano namun ternyata setelah latihan berulang kali, ia merasa bahwa dirinya lebih mahir bermain piano dibandingkan dengan teman-temannya. X lalu semakin ingin lebih mahir lagi hingga ia terus menerus berlatih secara konsisten agar lebih baik. Pada akhirnya, X semakin dikenal sebagai salah satu pemain piano terbaik dan hal ini membuat dirnya sedikit demi sedikit mencintai atau memiliki passion terhadap piano. Dengan kata lain, kita dapat menyebut ide kedua kurang lebih sama dengan penyataan “love what you do”.

Ketiga, go deep. Dalam prakteknya, kita harus membuat suatu rencana manajemen waktu agar kita mampu melakukan sesuatu yang berharga dan sesuai dengan membangun skill. Seperti apa yang dilakukan oleh pemain piano X, ia mengalokasikan waktunya untuk terus berlatih dan menguji hasil latihannya sehingga ia tahu bagaimana perkembangan dirinya. Hal tersebut akan sia-sia belaka bila ia tidak go deep work dengan terus secara persisten untuk fokus dan tanpa gangguan melakukan kegiatan yang bernilai guna.

Bagi Newport, mengikuti passion bukanlah sesuatu yang salah. Namun, hal itu menjadi terlalu sederhana bila dijadikan sebagai syarat untuk merasakan kebahagian karena bagi Newport passion hanyalah suatu konsekuensi dari membangun skill yang berguna bagi kehidupan kita. Hal ini pulalah yang terjadi pada Steve Jobs. Mungkin saat di awal pembentukan Apple dia merasa terpaksa karena kebutuhannya saat itu namun dengan semakin berkembangnya zaman dan Apple itu sendiri, Jobs terus berusaha untuk semakin baik dalam bidang tersebut hingga akhirnya apa yang ia lakukan menjadi sesuatu yang berguna bagi dunia.

Saya pribadi menilai bahwa mengikuti passion adalah sesuatu yang penting, khususnya bagi kita yang telah menemukan passion itu. Kita dapat melihatnya dari para pemain sepak bola yang telah mencintai dan menganggap bahwa sepak bola bukan hanya pekerjaan mereka saja namun juga hobi mereka sejak kecil. Tetapi hal ini akan menjadi sia-sia apabila kita tidak melakukan suatu usaha yang konsisten untuk memanfaatkan passion kita dan mengubahnya menjadi sesuatu yang dapat membuat kita bahagia dan berguna. Salah satu contoh sederhana dari passion yang menjadi sia-sia mungkin dapat kita ambil dari karakter Mas Adi dalam serial “Tetangga Masa Gitu” produksi Net. TV. Jangan sampai kita menyia-nyiakan passion yang kita miliki dan menjadikannya alasan bagi kita untuk tidak berusaha keras dalam kehidupan kita.

Selain itu, bila kita tidak/belum memiliki passion maka kita tidak perlu mempermasalahkannya karena mungkin saja apa yang kita lakukan saat ini atau berada di hadapan kita adalah passion kita. Hal yang penting adalah bagaimana kita membangun diri kita khususnya kemampuan kita dengan apa yang ada di hadapan kita saat ini secara terus menerus hingga akhirnya kita menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan luas. Kita tidak perlu untuk berpindah-pindah tempat kerja atau bahkan pekerjaan atau juga pindah jurusan kuliah hanya karena kita merasa bahwa itu bukanlah passion kita apalagi jika kita sudah terlanjur membangun kehidupan kita pada bidang tersebut. Cukup dengan terus melanjutkan dan meningkatkan usaha kita dalam membangun kemampuan kita agar kita menjadi yang terbaik pada bidang tersebut dan menjadi seseorang yang berguna maka mungkin itu akan menjadi passion dan kebahagiaan kita seperti yang terjadi pada Steve Jobs.

Saya ingin menutup tulisan saya ini seperti apa yang dikatakan oleh Newport,

If you wanna love what you do, do what Steve Jobs did and not what he said

Referensi:

Mengapa “Follow Your Passion” adalah Saran yang Menyesatkan

Video Seminar Cal Newport di 99u Conference

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s