Chelsea Riwayatmu Kini

Bengawan Solo riwayatmu kini

Sedari dulu jadi…

Perhatian insani

Lirik lagu di atas diambil dari salah satu lagu populer yang diciptakan oleh Gesang, berjudul Bengawan Solo. Saya sebagai fans Chelsea merasa bahwa lagu ini mungkin pantas untuk dinyanyikan di Stamford Bridge atau minimal di tempat-tempat nobar.

Riwayat Chelsea musim ini benar-benar mengundang tanda tanya besar oleh seluruh insan di muka bumi. Bahkan Mourinho sendiri pun saya yakin sudah kehilangan akal mengenai apa yang terjadi dengan Chelsea di musim ini.

Musim lalu Chelsea menjadi perhatian seluruh insan sepak bola karena kedigdayaannya sejak pekan pertama hingga pekan terakhir bertengger di puncak klasemen. Musim lalu Chelsea menjadi perhatian seluruh insan sepak bola karena pertahanan yang rapat dan serangan yang mematikan.

Tapi musim ini? Chelsea menjadi perhatian insan sepak bola karena rapuhnya pertahanan, tumpulnya serangan, menghilangnya permainan pemain-pemain kunci, hingga berbagai kontroversi seperti pertengkaran Carneiro dan Mourinho.

Kontroversi memang tidak pernah lepas dari Chelsea apalagi semenjak Mourinho kembali. Menghilangnya permainan bagus dari para pemain kunci pun biasa terjadi dalam sepak bola. Serangan Chelsea juga bisa dibilang bukanlah yang sangat mematikan, masih kalah dengan Manchester City. Tapi yang menjadi aneh adalah bagaimana rapuhnya pertahanan Chelsea. Chelsea yang dikenal sebagai tim parkir bis itu telah menerima 17 gol ke gawangnya. Miris dan ironis rasanya.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Chelsea?

Kesalahan Taktik

Mourinho pada dasarnya adalah pelatih top. Ia dapat membuat banyak taktik hanya untuk satu pertandingan. Persiapan untuk membuat taktik itu pun sangatlah matang. Chelsea di tangan Mourinho dapat dikatakan sebagai tim bunglon. Sekalipun terlihat hanya diam bertahan namun pada dasarnya Chelsea bisa membunuh dengan cepat.

Sayangnya hal ini pun juga sudah diketahui oleh tim-tim lawan. Bagaimana Chelsea membangun serangan dan bagaimana pola permainan tiap individu sudah terlihat jelas. Lihat bagaimana Fabregas dan Matic yang seperti kehilangan arah dalam bertahan maupun menyerang. Atau Diego Costa yang hanya terlihat marah-marah saja tapi tidak memberikan kontribusi dalam permainan. Atau bahkan Hazard pun tidak terlihat seperti seorang penyihir kecil.

Hal ini semakin diperparah dengan Mourinho yang seperti tidak ingin melakukan perubahan taktik. Contoh yang paling mudah adalah dengan tidak memainkan Baba Rahman dan menggeser Azpilicueta ke bek kanan. Ivanovic yang menjadi bek kanan Chelsea hanya dalam 2 pertandingan awal saja sudah menunjukkan bahwa ia merupakan titik lemah pertahanan Chelsea. Namun nyatanya Ivanovic hanya sekali saja tidak bermain.

Rapuhnya Lini Pertahanan

Musim lalu Chelsea merupakan tim dengan jumlah kebobola terendah. Musim lalu Chelsea juga menjadi tim dengan pertahanan yang efektif dan efisien. Namun musim ini semua itu seakan hanya catatan riwayat masa lalu belaka. Pertahanan Chelsea menjadi salah satu yang terapuh musim ini, bahkan hanya kalah oleh Newcastle.

Tiga bek senior Chelsea dapat dikatakan menjadi sumber permasalahan ini. Ivanovic dan Terry terlihat sangat lamban di belakang. Mereka pun terlihat tidak sekuat musim lalu. Diperparah dengan penampilan Cahill yang bagaikan roller coaster hal ini semakin membuat kerja Courtois dan Begovic semakin berat dan terlihat terlihat sia-sia belaka.

Selain masalah performa ketiga bek Chelsea, duo gelandang tengah yang biasanya dihuni oleh Matic dan Fabregas pun seperti kehilangan tajinya. Musim lalu kinerja kedua gelandang ini sangatlah menarik untuk dilihat. Matic yang walaupun cenderung lamban mampu untuk mengcover hampir seluruh area lapangan tengah Chelsea. Permainan Matic musim lalu seakan-akan dia berada dimana-mana.

Fabregas yang cenderung bermain menyerang pun mampu memberikan keamanan dalam bertahan bahkan saat posisinya bertukar dengan Matic. Namun musim ini permainan duo Fabregas dan Matic ini telah lenyap bagai sungai Bengawan Solo yang kekeringan.

Lini Serang yang Tidak Menggigit

Musim lalu poros serangan Chelsea sebenarnya sangatlah sederhana. Fabregas akan menerima bola di tengah, lalu berikan ke Hazard untuk diolah, setelah Diego Costa yang akan menerima bola atau menjadi decoy. Kerja Oscar dan Willian adalah untuk membantu ketiga pemain ini dalam memberikan kreasi dan kecepatan serangan.

Sayangnya semua itu telah menguap ke langit sejak awal musim. Umpan-umpan Fabregas sudah tidak terlihat memberikan nyawa serangan. Bahkan seperti tidak jelas maksud umpan itu untuk apa. Hazard sebagai pemain terbaik musim lalu juga tidak terlihat kelincahan dan liukannya yang gemulai. Ia terlihat kesulitan untuk melepaskan diri dari penjagaan ketat bek lawan meski ia harus keluar dari posisi sayap sekalipun.

Akhirnya hal ini menyebabkan pasokan bola untuk Costa semakin berkurang dan berkualitas buruk. Pekerjaan sebagai decoy pun sulit untuk dilakukan karena penjagaan ketat dari bek-bek lawan. Mungkin hanya tugasnya sebagai destroyer saja yang masih ia lakukan.

Tambahan seorang Pedro Rodriguez pun nyatanya tidak mampu untuk membuat serangan Chelsea lebih menggigit dan bervariasi. Serangan Chelsea masihlah sama seperti musim lalu namun dengan gigitan yang sangat lemah.

Mental Block

Mental block merupakan kondisi di mana seseorang mengalami hambatan secara mental/psikologis yang menyelubungi pikirannya. Hal ini dapat menyebabkan orang tersebut seperti kehilangan arah, tidak tahu harus melakukan apa, dan yang lebih parah adalah ketakutan karena kegagalan yang terus menerus.

Bisa dibilang hampir seluruh pemain Chelsea saat ini mengalami hal ini. Mengawali musim dengan kegagalan menang di kandang melawan Swansea lalu dilanjutkan dengan pertengakaran Mourinho dan Carneiro sedikit banyak telah menggoyang mental pemain Chelsea. Kekalahan telah di tangan Manchester City lalu kekalahan di kandang oleh Crystal Palace semakin memperparah mental block yang dialami oleh para pemain Chelsea.

Mereka telah terbebani fakta bahwa mereka merupakan juara bertahan. Lalu saat mereka tidak bisa perform di laga-laga awal tentu membuat pemain Chelsea mengalami tekanan yang luar biasa. Hal ini pada akhirnya membuat mereka begitu keras untuk keluar dari tekanan tersebut namun yang ada justru semakin menambah tekanan itu sendiri. Lihat bagaimana raut muka Eden Hazard saat akan mengambil penalti di matchday 1 UCL.

Jika para pemain Chelsea masih belum bisa untuk membongkar mental block maka hal ini bisa menimbulkan keragu-raguan dalam bersikap yang pada akhirnya akan menimbulkan ketakutan tersendiri.

Sudah saatnya Mourinho dan seluruh pemain Chelsea untuk melakukan perubahan sesegera mungkin. Mulai dari perubahan taktik, pemilihan pemain, hingga psikologis pemain itu sendiri. Jika hal ini gagal dilakukan maka lagu Bengawan Solo semakin menggambarkan kondisi Chelsea kini.

Kampus dan Peranannya dalam Perkembangan Ekonomi Sekitar

Bulan September telah memasuki minggu ketiganya. Tahun ajaran baru di tingkat pendidikan tinggi pun telah banyak yang dimulai setelah melalui tahapan gegap gempitanya penyambutan mahasiswa baru. Seiring dimulainya tahun ajaran baru itupun nadi-nadi perekonomian di daerah sekitar kampus mulai berdenyut kembali setelah libur selama beberapa bulan. Menarik sekali untuk mencermati bagaimana kondisi ini bisa terjadi.

Saya masih ingat betul bagaimana sulitnya saya untuk mencari tempat percetakan yang bisa mencetak skripsi saya kemarin karena hampir seluruh percetakan di sekitar kampus saya sedang tutup. Namun, saat agenda penyambutan mahasiswa baru dimulai, berbagai percetakan dan tempat fotokopi itu pun satu per satu mulai beraktivitas kembali. Pun demikian dengan tempat-tempat makan atau tempat laundry.

Tiga tahun lebih saya tinggal di daerah Kukusan Teknik Depok. Dalam tiga tahun lebih itu pula saya menyaksikan bagaimana pesatnya perkembangan di daerah itu. Munculnya tempat kos baru yang bertingkat-tingkat, menjamurnya tempat fotokopi dan laundry serta tentu saja bertambahnya warteg-warteg di daerah Kukusan Teknik itu.

Saya berandai-andai mungkin jika Universitas Indonesia tidak membangun kampus barunya di daerah itu maka daerah Kukusan atau Pondok Cina tidak akan seramai dan berkembang pesat seperti saat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak Universitas Indonesia membangun kampus barunya di daerah Margonda Depok, sejak itu pulalah daerah-daerah sekitarnya juga terkena imbas pembangunan tersebut.

Saya masih ingat betul saat masih mahasiswa baru saya menemukan beberapa artikel mengenai daerah Margonda sebelum UI ada. Daerah yang saat ini menjadi Kampus UI pada saat itu masihlah berupa hutan kota yang tentu saja jauh dari kesan keramaian. Bisa dibayangkan pula bagaimana kondisi daerah di Pondok Cina atau bahkan Kukusan. Namun semua itu akhirnya berubah semenjak Kampus UI Depok dibangun.

Kondisi yang sama juga saya temukan di tempat tinggal saya di Jember. Saya dan keluarga bertempat tinggal di daerah Mangli, dekat dengan Institut Agama Islam Negeri (dulu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Jember. Saat saya masih SMP hingga SMA, daerah tempat saya tinggal masihlah didominasi dengan rumah tempat tinggal permanen. Lalu, di sekitar kampus selain rumah warga dan beberapa tempat kos, juga ada warung makan atau tempat fotokopi.

Namun, seiring dengan perkembangan kampus IAIN itu maka berkembang pulalah daerah sekitarnya, termasuk daerah tempat saya tinggal. Saat ini telah cukup banyak rumah yang dijadikan tempat kos. Jalan di depan kampus IAIN itu yang bila malam dulunya agak sepi maka kali ini jalan itu menjadi ramai. Cukup banyak pedagang jajanan berjualan di jalan tersebut. Mahasiswa-mahasiswa dan warga sekitar pun cukup banyak yang nongkrong di tempat itu. Perkembangan satu kampus lagi-lagi membuktikan juga ikut mengembangkan keadaan daerah sekitarnya.

Saya yakin di berbagai daerah di seluruh Indonesia pun juga mengalami kejadian serupa. Keberadaan kampus tidak hanya berguna bagi mereka yang ingin menempuh pendidikan tinggi saja. Keberadaan kampus juga berguna bahkan sangat berguna bagi perkembangan ekonomi daerah sekitar. Seandainya di Bandung tidak berdiri kampus-kampus besar seperti ITB, Unpad, atau Telkom pasti Bandung tidak akan seramai saat ini. Bandung mungkin akan tetap menjadi kota sederhana yang terkenal akan keanggunannya dan benar-benar ramai hanya saat weekend saja. Begitu pula dengan Surabaya, Malang, Yogyakarta, Padang, Medan, atau Makassar sekalipun.

Keberadaan kampus tentu tidak bisa berdiri sendirian. Dia pasti membutuhkan sokongan dari berbagai pihak sekitar, khususnya warga sekitar kampus itu berada. Hal ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya hubungan simbiosis mutualisme antara kampus dan warga sekitar. Saat satu kampus berdiri tentu ia akan membutuhkan tenaga-tenaga manusia untuk menjalankannya. Dalam hal ini daerah sekitar mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menjadi tenaga kerja di kampus tersebut.

Stakeholder-stakeholder lain di dalam kampus pun juga tentu membutuhkan peranan para warga sekitar. Para mahasiswa pasti akan kesulitan bila tidak ada warga sekitar yang menopang kehidupan kampus. Jika mereka lapar, mereka cukup “bergeser” ke tempat makan yang berada di sekitaran kampus. Pun jika mereka butuh untuk mencetak atau fotokopi dokumen. Peranan warga sekitar akan lebih tinggi lagi bagi mereka mahasiswa daerah seperti saya. Tanpa mereka kami para mahasiswa daerah tentu akan kesulitan mencari tempat tinggal, tempat makan, atau bahkan tempat laundry. Namun, hal ini tidak terjadi karena nyatanya warga sekitar kampus pun membuka diri untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan kampus.

Kegiatan interaksi antara kampus dan warga sekitar menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi berlangsung secara sederhana. Warga kampus memiliki demand dalam banyak hal, warga sekitar pun memberikan supply terhadap hal-hal tersebut. Akhirnya interaksi ekonomi pun terjadi. Hal ini berlangsung secara terus menerus dan pada akhirnya juga terus berkembang. Hasil akhirnya tentu saja perkembangan kondisi ekonomi daerah sekitar.

Pentingnya Perencanaan Keuangan Demi Hari Tua

My newest article just got published in panditfootball.com, you can read it in Pentingnya Perencanaan Hari Tua untuk Pesepakbola. I’m going to share the unedited version. Happy reading!!!


Tanggal 9 September mungkin menjadi salah satu hari yang cukup penting bagi dunia olahraga Indonesia. Pada tanggal itulah dirayakan Hari Olahraga Nasional. Berbicara mengenai olahraga di Indonesia khususnya secara profesional mungkin tidak bisa jauh-jauh dari berbagai masalah yang melanda. Masalah-masalah seperti seretnya prestasi, carut marutnya manajemen kepengurusan, hingga masalah keuangan atlet seperti sudah sulit untuk dihilangkan dari dunia olahraga Indonesia, termasuk dunia sepak bola.

Sepak bola merupakan salah satu olahraga terfavorit di Indonesia. Sayangnya hal ini tidak menjamin sepak bola untuk menjadi cabang olahraga tersukses di Indonesia. Kegagalan-kegagalan untuk meraih prestasi telah menjadi hal yang lumrah bagi para penikmat sepak bola Indonesia. Ditambah dengan sengkarutnya kompetisi dan kepengurusan hingga masalah pembekuan organisasi maka sepertinya sudah tidak ada lagi masalah lain yang tidak dicicipi oleh persepakbolaan Indonesia.

Namun, ada salah satu masalah sepak bola yang memberikan dampak langsung kepada para pelakunya, khususnya para pemain, yaitu masalah keuangan. Masalah keuangan yang terjadi di sepak bola Indonesia bisa dibilang cukup kompleks. Namun, muaranya tetap satu, yaitu kerugian yang diderita oleh para pemain.

Masih tidak bisa dilupakan bagaimana kejadian pemain sepak bola meninggal dunia akibat tidak memiliki biaya yang cukup untuk mengobati penyakitnya. Atau bagaimana seorang Alfin Tuasalamony yang sampai kebingungan untuk mencari biaya demi pengobatan kakinya yang patah. Aneh rasanya jika para pemain ini sampai kesulitan keuangan mengingat secara kontrak, harga dan gaji mereka cukup tinggi dan industri sepak bola nasional pun sedang bertumbuh.

Namun nyatanya kesulitan keuangan masih menjadi momok tersendiri bagi para pemain sepak bola di Indonesia. Apalagi dengan kejadian pembekuan PSSI yang dilakukan oleh Kemenpora membuat roda kompetisi berhenti, hal ini semakin memperparah kondisi mereka. Kesulitan keuangan ini pada akhirnya akan membuat nasib pemain di hari tua mereka menjadi semakin tidak terjamin.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menghindari masalah tersebut? Kuncinya hanya satu, membuat perencanaan hari tua.

Perencanaan Hari Tua

Dalam dunia manajemen SDM, perencanaan hari tua atau yang biasa disebut dengan pension plan merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan. Bagi seorang pekerja, perencanaan hari tua juga perlu diperhatikan karena hal ini mampu mempengaruhi masa depan mereka. Untungnya, pemerintah dan hampir seluruh perusahaan yang ada di Indonesia telah menyadari pentingnya perencanaan hari tua tenaga kerja Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan yang mewajibkan perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk melaksanakan program yang membantu perencanaan hari tua karyawaannya. Salah satu hal yang krusial adalah jaminan hari tua atau yang pada saat ini berbentuk BPJS Ketenagakerjaan.

Program ini diharapkan dapat membantu tenaga kerja Indonesia dalam perencanaan hari tua mereka. Meski telah mendapatkan bantuan dari pemerintah dan perusahaan, tetap penting bagi seorang tenaga kerja untuk menyusun rencana hari tua mereka untuk memastikan bahwa di masa depan mendatang mereka tidak akan mengalami kesulitan keuangan bahkan hingga bangkrut.

Bagaimana dengan Pemain Sepak Bola?

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Setiap pekerja ini memiliki hak untuk mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja, salah satunya adalah jaminan hari tua atau pensiun. Jaminan hari tua ini dapat diberikan sepenuhnya oleh perusahaan, atau dari perusahaan dan pekerja, maupun sepenuhnya diambil dari pekerja.

Lalu bagaimana dengan pemain sepak bola?

Bila mengacu pada pengertian pekerja di UU Ketenagakerjaan maka pemain sepak bola merupakan seorang pekerja dan berhak untuk mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja, khususnya jaminan hari tua. Apalagi hampir seluruh klub sepak bola telah berbadan hukum perusahaan terbatas sehingga seharusnya klub-klub sepak bola tersebut memberikan bantuan jaminan hari tua kepada para pemain sepak bolanya.

Namun, karena mungkin atlet memiliki sifat tersendiri dalam dunia kerja maka pemerintah telah mengaturnya dalam undang-undang yang lain, yaitu Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional. Dalam undang-undang tersebut telah disebutkan bahwa setiap olahragawan profesional (atlet) memiliki hak untuk mendapatkan pendapatan yang layak, sayangnya dalam undang-undang tersebut tidak disebutkan mekanisme jaminan hari tua atlet.

Ketiadaan peraturan mengenai jaminan hari tua ini tentu amat disayangkan dan mungkin ini menjadi salah satu sebab mengapa atlet di Indonesia, seperti pemain sepak bola, tidak mendapatkan jaminan hari tua sama sekali, baik dari pihak klub maupun dari pengurus PSSI.

Langkah yang Bisa Dilakukan

Ketiadaan peraturan mengenai mekanisme jaminan hari tua bagi atlet termasuk pemain sepak bola membuat mereka sulit untuk meminta bantuan dari pihak klub maupun asosiasi untuk membantu mereka dalam perencanaan jaminan hari tua mereka. Meski pemerintah Indonesia juga memiliki UU Ketenagakerjaan yang di dalamnya mengatur mengenai jaminan hari tua, namun karena mungkin sifat ketenagakerjaan pemain sepak bola berbeda dengan tenaga kerja lainnya, maka sulit untuk mengacu pada undang-undang tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah harus segera merevisi UU Sistem Keolahragaan Nasional tersebut. Sudah terlalu banyak atlet yang merasakan kerugian akibat tidak adanya peraturan mengenai jaminan hari tua dan ini tidak hanya dialami oleh pemain sepak bola saja. Penambahan peraturan mengenai jaminan hari tua harus dilakukan agar tidak terjadi lagi atlet yang kesulitan keuangan setelah mereka tidak aktif lagi atau pensiun.

Bagi pemain sepak bola sendiri, mereka juga tidak bisa hanya menunggu pemerintah atau pihak lainnya untuk melakukan perubahan. Tidak jarang ditemukan pemain sepak bola yang saat aktif di lapangan melakukan penghamburan uang sehingga saat terjadi masalah seperti gaji yang terlambat atau bahkan berhentinya kompetisi maka mereka akan terkena efek langsung dari tidak adanya pendapatan dan pada akhirnya mereka bisa mengalami kebangkrutan.

Pemain sepak bola harus mulai menyusun perencanaan mereka demi kelangsungan hari tua mereka nanti. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah dengan menetukan setelah mereka pensiun, mereka ingin melakukan kegiatan apa. Apakah mereka ingin menjadi pelatih sepak bola meski tantangan dan resikonya hampir sama dengan saat mereka menjadi pemain? Atau mereka ingin beralih menjadi PNS seperti yang dilakukan oleh Ilham Jaya Kesuma atau bahkan pegawai swasta? Atau mungkin juga mereka ingin menjadi wirausahawan seperti yang dilakukan oleh Tony Sucipto?

Langkah berikutnya adalah dengan sesegera mungkin menyisihkan pendapatan mereka untuk masa depan mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana seperti dengan menabung atau dengan cara yang lebih kompleks seperti dengan berinvestasi. Namun intinya adalah hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga apabila masalah-masalah seperti gaji yang terlambat atau bahkan kompetisi yang berhenti terjadi, mereka masih memiliki penghasilan lain.

Langkah terakhir adalah membuat perencanaan yang detail. Jika para pemain telah tahu apa yang akan mereka lakukan setelah pensiun nanti maka mereka harus segera menyusun perencanaan untuk mencapainya. Jika pemain setelah pensiun ingin menjadi pelatih maka akan lebih baik bila mereka mulai mengikuti kursus-kursus kepelatihan untuk segera mendapatkan lisensi. Pun demikian bila ternyata mereka ingin menjadi PNS atau bahkan wirausahawan sekalipun mereka juga harus segera menyusun perencanaan yang jelas dan detail.

Langkah-langkah itu memang belum tentu menjamin bahwa di hari tua mereka nanti, mereka tidak akan mengalami kesulitan finansial. Namun, bukankah lebih baik bila sedia payung sebelum hujan kan?

Harga Transfer Pemain Sepakbola ala Ojek Pangkalan

My new article just got published in panditfootball.com, you can read it in Negosiasi Transfer a la Ojek Pangkalan. I’m going to share the unedited one. Cheers!!!


Usai sudah drama bursa transfer sepakbola musim panas ini. Drama yang dimulai sejak bulan Juli lalu menghasilkan berbagai kejutan khususnya di detik-detik akhir bursa transfer. Bergabungnya penyerang muda Anthony Martial ke Manchester United dengan harga yang sangat tinggi dan kegagalan pindahnya David De Gea ke Real Madrid merupakan beberapa contoh kejutan itu. Selain kejutan, bursa transfer kali ini juga diisi oleh kelegaan bagi beberapa pemain karena berhasil pindah klub untuk memperbaiki nasibnya, seperti Cech, Di Maria, atau Balotelli.

Namun, jika melihat rangkuman bursa transfer musim ini, ada benang merah dengan musim-musim sebelumnya, yaitu harga pemain yang melambung tinggi. Jika ditelusuri ke belakang, mungkin melambungnya harga pemain ini dimulai sejak kepindahan Kaka dan Cristiano Ronaldo yang mampu memecahkan rekor transfer pemain sepakbola. Rekor tersebut pada akhirnya tidak bertahan lama karena lagi-lagi dipecahkan oleh Real Madrid saat memboyong Gareth Bale.

Perbedaan mendasar harga tinggi pada ketiga pemain tersebut dengan beberapa pemain saat ini adalah mereka memang pantas untuk dihargai sebesar itu. Tidak ada yang bisa memungkiri kehebatan Kaka dan Cristiano Ronaldo. Berbagai gelar baik kolektif maupun individu telah mereka raih. Harga Gareth Bale yang juga sempat dipertanyakan pun ternyata hanya butuh semusim untuk balik modal karena Bale mampu membantu Madrid untuk meraih La Decima.

Namun bagaimana bila harga yang tinggi diberikan ke pemain-pemain muda yang belum terjamin kehebatan dan kekonsistenannya seperti Luke Shaw, atau Kevin De Bruyne, atau Raheem Sterling atau bahkan yang terbaru Anthony Martial? Pantaskah mereka dan pemain-pemain muda lainnya dibeli dengan harga yang tinggi?

Untuk menjawab pantas tidaknya mereka memiliki harga yang tinggi tentu akan cukup sulit mengingat tidak ada mekanisme resmi dan pasti yang mampu mengatur penentuan harga seorang pemain sepakbola. Harga seorang pemain sepakbola pada dasarnya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti statistik permainannya, kualitas kemampuan yang dimiliki, image di dunia sepakbola, hingga proyeksi masa depan pemain tersebut. Semakin bagus seorang pemain dalam memenuhi faktor-faktor maka biasanya akan semakin tinggi pula harga jualnya.

Lalu bagaimana dengan para pemain muda yang memiliki harga tinggi tersebut? Satu-satunya faktor yang pasti dianggap tinggi adalah proyeksi masa depan pemain tersebut yang dilandasi oleh talenta yang dimilikinya. Secara image para pemain muda ini tentu belum memiliki image sekelas Ronaldo atau Messi atau bahkan David Luiz sekalipun. Secara statistik permainan dan kualitas kemampuan pun masih belum cukup untuk dihargai dengan harga yang tinggi. Sehingga lagi-lagi harga tinggi itu hanya dilandasi faktor proyeksi masa depan saja yang pada akhirnya proses negosiasi harga memegang peran yang sangat penting.

Proses negosiasi inilah yang pada akhirnya menentukan seberapa besar harga para pemain muda itu. Dan dalam proses ini, pihak yang lebih powerful tentu saja klub pemiliki dan agen sang pemain. Kedua pihak ini tentu mengetahui lebih dalam tentang si pemain. Berbeda dengan klub calon pembeli yang agak buta karena hanya mendasarinya dari hasil scouting dan mungkin atensi media terhadap pemain tersebut. Sistem yang seperti ini jika dipikir-pikir agak mirip dengan sistem penentuan harga ojek pangkalan.

Seperti yang diketahui selama ini penentuan harga ojek pangkalan dilandasi oleh proses negosiasi. Dan dalam proses ini, si tukang ojeklah yang memiliki power lebih tinggi dibandingkan calon pengguna jasa apalagi jika si calon pengguna jasa ini tidak terlalu mengetahui daerah tersebut. Hal ini bisa menyebabkan tukang ojek dapat memberikan harga yang sangat tinggi padahal secara jarak bisa dibilang cukup dekat.

Berbeda dengan ojek pangkalan, sistem penentuan harga ojek online dapat dikatakan lebih jelas meski tidak terlalu transparan. Harga yang harus dibayar oleh pengguna didasari oleh seberapa jauh jarak yang ditempuh. Dan meski tanpa proses negosiasi, harga yang diberikan jauh lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan proses negosiasi dengan ojek pangkalan.

Dalam hal transfer pemain sepakbola, sistem negosiasi ala ojek pangkalan ini terjadi karena kurangnya informasi mengenai berapa harga yang pantas untuk dibayarkan demi mendapatkan seorang pemain. Apalagi jika pemain tersebut masih belum teruji benar kualitas dan prestasinya, seperti Sterling, Shaw, Martial, dan kawan-kawan. Dengan sistem negosiasi ala ojek pangkalan ini, klub pemilik dan agen pemain terlihat dapat bertingkah seperti tukang ojek pangkalan yang mematok harga sangat tinggi meski harga itu amatlah overpriced.

Memang para klub pembeli memiliki sumber dana yang sangat besar namun tetap saja akan aneh apabila seorang pemain muda yang belum terlalu jelas dihargai dengan harga yang sang tinggi. Sama seperti bila jarak yang ditempuh menggunakan ojek pangkalan tidak terlalu jauh namun harus membayar dengan harga yang tinggi. Mungkin di masa yang mendatang akan ada standardisasi penentuan harga pemain seperti yang terjadi dalam penentuan harga ojek online. Mungkin saja.

Kesuksesan Pribadi vs Komitmen

Mungkin tidak akan pernah ada seorang fans sepak bola di seluruh dunia ini yang akan menyangka bahwa seorang Pedro Rodriguez secara tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke Chelsea FC. Namun, nyatanya dalam suatu proses yang begitu cepat dan tidak terdeteksi oleh radar media sepak bola, Chelsea berhasil mendapatkan penyerang sayap Barcelona itu. Tentu aneh melihat seorang pemain Barcelona memilih untuk pindah ke klub lain apalagi pemain itu lahir dan dibesarkan oleh Barcelona sendiri.

Pedro merupakan salah seorang pemain Barcelona dengan berbagai deretan trofi, baik skala domestik maupun internasional. Ia pun merupakan pemain yang ikut merasakan kedigdayaan meraih seluruh trofi yang tersedia dalam satu tahun kalender di tahun 2009. Pedro juga menjadi salah satu pemain yang merasakan indahnya meraih treble sebanyak dua kali di klub yang sama. Catatan manis itu ditambah dengan fakta bahwa hanya Pedro yang mampu mencetak gol di seluruh turnamen yang dimenangi oleh Barcelona di tahun 2009.

Ternyata bagi Pedro segala trofi dan berbagai catatan manis itu hanyalah sesuatu yang semu belaka. Nyatanya, Pedro bukanlah pemain yang selalu menjadi pilihan utama di Barcelona. Entah itu saat era Pep Guardiola, atau Tito Villanova, atau Tata Martino, bahkan hingga era Luis Enrique saat ini. Secara menit bermain mungkin Pedro memiliki jumlah menit bermain yang cukup banyak jika dibandingkan pemain pilihan kedua lain di Barcelona. Namun tetap saja Pedro selalu dinomorsekiankan dalam urusan starting line-up. Kita baru bisa melihat nama Pedro mungkin saat Barcelona merotasi pemain atau saat salah satu di antara trisula lini depan Barcelona tidak bisa bermain.

Hal yang sama juga sempat dirasakan oleh Petr Cech di musim lalu. Seiring kembalinya Courtois, Cech yang telah menjaga gawang Chelsea selama satu dekade terakhir akhirnya harus rela menerima keadaan bahwa dirinya bukan lagi pilihan pertama penjaga gawang Chelsea. Hingga akhirnya pada awal musim ini Cech memutuskan untuk bergeser ke arah London Utara dan berganti warna menjadi merahnya Arsenal.

Kedua pemain tersebut dapat menjadi contoh bagaimana komitmen seorang pemain terhadap klubnya dibenturkan dengan keinginan seorang pemain untuk meraih kesuksesan pribadi. Komitmen dapat diartikan sebagai keinginan untuk terus bertahan di satu organisasi dalam jangka waktu yang lama dan memberikan berbagai bentuk pengorbanan terhadap organisasinya. Kesuksesan bagi pemain sepak bola dapat diartikan dengan banyaknya trofi atau penghargaan yang ia raih hingga menit bermain maupun kenaikan gaji.

Jika kita lihat apa yang terjadi pada Pedro dan Cech, mereka berdua merupakan contoh terbaru bagaimana seorang pemain sepak bola harus mengorbankan komitmen mereka terhadap klubnya demi kesuksesan pribadi mereka (dalam hal ini jumlah menit bermain). Faktanya telah cukup banyak pemain yang harus mengorbankan komitmen mereka demi kesuksesan pribadi. Jika Anda merupakan fans liga Inggris dan Arsenal, tentu masih segar dalam ingatan Anda bagaiman dua mantan kapten Arsenal memutuskan untuk pindah ke klub rival. Ya, mereka adalah Robin van Persie dan Cesc Fabregas (meski Fabregas sempat mampir terlebih dahulu di Barcelona).

Bagi Anda fans Arsenal tentu menyakitkan melihat dua mantan kapten Arsenal pindah ke klub rival. Namun, harus diingat alasan utama yang diungkapkan oleh kedua pemain itu menyangkut pada keinginan mereka untuk meraih kesuksesan. Van Persie pada saat itu merasakan bahwa ia sulit untuk meraih gelar juara, khususnya liga Inggris, bila ia tetap di Arsenal sehingga ia pindah ke Manchester United. Berbeda dengan Fabregas yang situasinya sama dengan Pedro, kurangnya menit bermain.

Saya sebagai fans Chelsea juga sempat sedih dan kecewa saat melihat Cech dengan seragam Arsenal. Namun, jika saya berada di posisi yang sama dengan Cech, saya pun juga akan lebih memilih untuk meninggalkan Chelsea. Apalagi Cech masih berada di usia yang matang sebagai pemain sepak bola dan kemampuannya pun masih belum menurun.

Masih cukup banyak contoh-contoh lain bagaimana seorang pemain sepak bola memilih untuk mengorbankan komitmennya untuk meraih kesuksesan pribadi. Di Liga Italia dapat diambil contoh Ibrahimovic saat pindah dari Juventus ke Inter Milan. Di Liga Spanyol ada Luis Figo dari Barcelona ke Real Madrid atau David Villa yang pindah dari Valencia ke Barcelona lalu ke Atletico Madrid.

Melihat berbagai contoh itu tentu amat menyakitkan bagi kita yang menjadi fans klub yang ditinggalkan oleh pemain itu. Namun, kita juga harus sadar bahwa sebagai pemain sepak bola mereka juga memiliki keinginan dan kebutuhan untuk meraih kesuksesan pribadi mereka atau mungkin dalam taraf ekstremnya untuk menyelamatkan karir mereka. Memang tidak seluruh pemain sepak bola memilih untuk mengorbankan komitmen mereka demi kesuksesan pribadi seperti yang dilakukan oleh Steven Gerrard yang memilih bertahan di Liverpool saat ada kesempatan untuk pindah ke Chelsea. Tapi seandainya kita berada pada posisi yang sama dengan Pedro atau van Persie atau Ibrahimovic, mungkin kita juga akan mengambil keputusan yang sama dengan mereka, yaitu mengorbankan komitmen kita demi meraih kesuksesan pribadi.

Pentingkah Mengejar Passion?

This article already published in selasar.com on August 26th. You can see it in Pentingkah Mengejar Passion?.


Do what you love and/or love what you do

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah tulisan menarik mengenai passion. Tulisan ini berbeda dengan berbagai tulisan lain mengenai passion. Di saat berbagai penulis maupun motivator mengatakan bahwa seakan-akan passion merupakan syarat bagi kita untuk merasakan kebahagiaan dalam kehidupan dan pekerjaan kita, tulisan ini justru mengungkapkan kebalikannya. Tulisan tersebut memiliki dasar dari beberapa artikel yang ditulis oleh Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer Georgetown University.

Ide-ide dasar mengenai “kejarlah passion Anda” bermula saat Steve Jobs memberikan pidato di Stanford University pada tahun 2005. Salah satu pernyataan Jobs yang menjadi trend di media pada saat itu (dan mungkin hingga kini) adalah “You’ve got to find what you love. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle”. Pernyataan inilah yang pada akhirnya diartikan oleh kebanyakan orang sebagai kejarlah passion Anda. Pertanyaan besarnya adalah apakah memang itu yang dimaksud oleh Jobs pada saat itu? Dan apakah salah bila kita mengikuti ide kejarlah passion Anda untuk merasa bahagia?

Cal Newport mampu menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan tiga ide sederhana. Pertama, don’t follow your passion. Kebanyakan orang di dunia ini termasuk di Indonesia (mungkin saya dan Anda juga) menganggap bahwa satu-satunya cara bagi kita agar bahagia dalam kehidupan maupun pekerjaan kita adalah dengan mengikuti passion kita. Newport menganggap hal ini merupakan saran yang amat buruk khususnya bagi kaum muda karena hal itu bisa saja justru mengurangi peluang mereka untuk benar-benar menjadi passionate. Saran follow your passion juga menafikan orang-orang yang tidak/belum memiliki passion, di mana justru mungkin kebanyakan orang memang tidak/belum memiliki passion. Steve Jobs, yang mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu pioneer ide follow your passion, pun pada dasarnya tidak memiliki passion terhadap teknologi. Ironis karena justru teknologilah yang membuat Jobs dikenal oleh masyarakat dunia. Secara kasarnya, sebenarnya Jobs hanya terlanjur “tercemplung” di Apple hingga akhirnya ia harus hidup dan dikenal orang lewat Apple itu.

Kedua, be so good so they can’t ignore you. Bagi Newport, passion bukanlah sesuatu yang mutlak namun passion merupakan suatu efek samping dari membangun skill selama bertahun-tahun. Newport mengilustrasikannya dengan seorang pemain piano profesional (sebut saja X). Sebelumnya, X hanya ingin berlatih piano namun ternyata setelah latihan berulang kali, ia merasa bahwa dirinya lebih mahir bermain piano dibandingkan dengan teman-temannya. X lalu semakin ingin lebih mahir lagi hingga ia terus menerus berlatih secara konsisten agar lebih baik. Pada akhirnya, X semakin dikenal sebagai salah satu pemain piano terbaik dan hal ini membuat dirnya sedikit demi sedikit mencintai atau memiliki passion terhadap piano. Dengan kata lain, kita dapat menyebut ide kedua kurang lebih sama dengan penyataan “love what you do”.

Ketiga, go deep. Dalam prakteknya, kita harus membuat suatu rencana manajemen waktu agar kita mampu melakukan sesuatu yang berharga dan sesuai dengan membangun skill. Seperti apa yang dilakukan oleh pemain piano X, ia mengalokasikan waktunya untuk terus berlatih dan menguji hasil latihannya sehingga ia tahu bagaimana perkembangan dirinya. Hal tersebut akan sia-sia belaka bila ia tidak go deep work dengan terus secara persisten untuk fokus dan tanpa gangguan melakukan kegiatan yang bernilai guna.

Bagi Newport, mengikuti passion bukanlah sesuatu yang salah. Namun, hal itu menjadi terlalu sederhana bila dijadikan sebagai syarat untuk merasakan kebahagian karena bagi Newport passion hanyalah suatu konsekuensi dari membangun skill yang berguna bagi kehidupan kita. Hal ini pulalah yang terjadi pada Steve Jobs. Mungkin saat di awal pembentukan Apple dia merasa terpaksa karena kebutuhannya saat itu namun dengan semakin berkembangnya zaman dan Apple itu sendiri, Jobs terus berusaha untuk semakin baik dalam bidang tersebut hingga akhirnya apa yang ia lakukan menjadi sesuatu yang berguna bagi dunia.

Saya pribadi menilai bahwa mengikuti passion adalah sesuatu yang penting, khususnya bagi kita yang telah menemukan passion itu. Kita dapat melihatnya dari para pemain sepak bola yang telah mencintai dan menganggap bahwa sepak bola bukan hanya pekerjaan mereka saja namun juga hobi mereka sejak kecil. Tetapi hal ini akan menjadi sia-sia apabila kita tidak melakukan suatu usaha yang konsisten untuk memanfaatkan passion kita dan mengubahnya menjadi sesuatu yang dapat membuat kita bahagia dan berguna. Salah satu contoh sederhana dari passion yang menjadi sia-sia mungkin dapat kita ambil dari karakter Mas Adi dalam serial “Tetangga Masa Gitu” produksi Net. TV. Jangan sampai kita menyia-nyiakan passion yang kita miliki dan menjadikannya alasan bagi kita untuk tidak berusaha keras dalam kehidupan kita.

Selain itu, bila kita tidak/belum memiliki passion maka kita tidak perlu mempermasalahkannya karena mungkin saja apa yang kita lakukan saat ini atau berada di hadapan kita adalah passion kita. Hal yang penting adalah bagaimana kita membangun diri kita khususnya kemampuan kita dengan apa yang ada di hadapan kita saat ini secara terus menerus hingga akhirnya kita menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan luas. Kita tidak perlu untuk berpindah-pindah tempat kerja atau bahkan pekerjaan atau juga pindah jurusan kuliah hanya karena kita merasa bahwa itu bukanlah passion kita apalagi jika kita sudah terlanjur membangun kehidupan kita pada bidang tersebut. Cukup dengan terus melanjutkan dan meningkatkan usaha kita dalam membangun kemampuan kita agar kita menjadi yang terbaik pada bidang tersebut dan menjadi seseorang yang berguna maka mungkin itu akan menjadi passion dan kebahagiaan kita seperti yang terjadi pada Steve Jobs.

Saya ingin menutup tulisan saya ini seperti apa yang dikatakan oleh Newport,

If you wanna love what you do, do what Steve Jobs did and not what he said

Referensi:

Mengapa “Follow Your Passion” adalah Saran yang Menyesatkan

Video Seminar Cal Newport di 99u Conference

Kadang-Kadang

IMG-20150524-WA0003

I want to share something that I take it from my Dad’s FB status. I think it’s a beautiful poetry. It’s about friendship.


Kadang-kadang sahabat yang suka traktir kita makan,

bukan karena mereka berlebihan

tapi karena mereka meletakkan persahabatan melebihi uang

Kadang-kadang sahabat yang rajin bekerja,

bukan karena mereka sok pandai

tapi karena mereka memahami akan tanggung jawab

Kadang-kadang sahabat yang memohon maaf dulu setelah pertengkaran

bukan karena mereka salah

tapi karena mereka menghargai orang di sekeliling mereka

Kadang-kadang sahabat yang sukarela membantu kita,

bukan karena mereka berutang apa-apa

tapi karena mereka melihat kita sebagai seorang sahabat

Kadang-kadang sahabat yang selalu menghubungi kita,

bukan karena mereka tidak ada kerjaan

tapi karena mereka ingat pada teman

Satu hari kita semua akan terpisah,

kita akan terkenang obrolan dan impian yang pernah ada

Hari berganti minggu, bulan, tahun,

hingga hubungan ini menjadi asing

Satu hari anak-anak dan cucu-cucu kita

akan melihat foto-foto kita dan bertanya

“Siapa mereka semua itu?”

Dan kita tersenyum

dengan air mata yang tidak terlihat

karena hati ini terusik dengan kata yang sayu,

lalu berkata

“Dengan merekalah ada hari yang paling indah dalam hidupku”

IMG-20150620-WA0017

IMG-20150329-WA0006

IMG-20150115-WA0046